Peneliti FK-KMK UGM Kembangkan Terapi Regeneratif Minim Invasif untuk Prolaps Organ Panggul

FK-KMK UGM. Dosen sekaligus peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melakukan penelitian tentang potensi human platelet-rich fibrin lysate (hPRF lysate) sebagai terapi regeneratif pada kondisi Prolaps Organ Panggul (POP). Tim yang terdiri dari Dr. dr. Akbar Novan Dwi Saputra, Sp.O.G, Prof. Dr. dr. Dicky Moch Rizal, M.Kes., Sp.And., AIFM., dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.OG., Subsp.OG, Prof. Dr. dr. Y. Widodo Wirohadidjojo, Sp.KK.(K), Prof. Dr. dr. Dwi Cahyani Ratna Sari, M.Kes.PA(K), Nandia Septiyorini dan Raden Mas Sonny Sasotya juga sudah mempublikasikan hasil penelitiannya pada jurnal F1000Research pada 16 September 2025 berjudul “Effect of human platelet-rich fibrin lysate on collagen type I, collagen type III, and matrix metalloproteinase 1: aprotocol study on rat models with pelvic organ prolapse”.</p?

Tujuan dari penelitian ini untuk menyelidiki efek injeksi hPRF-L terhadap kolagen I, III, dan MMP-1 pada mukosa vagina tikus dengan POP. POP merupakan kondisi yang umum terjadi akibat melemahnya struktur penunjang dasar panggul dan gangguan yang berdampak besar terhadap kualitas hidup perempuan. Human platelet-rich fibrin lysate (hPRF-L) merupakan terapi regeneratif baru yang telah menunjukkan hasil yang bermanfaat dalam menangani kelemahan struktural yang berkaitan dengan berbagai penyakit dasar panggul, termasuk POP.

Model POP akan diinduksi pada tikus betina Sprague-Dawley, yang akan dibagi secara acak ke dalam kelompok kontrol, sham, dan perlakuan hPRF-L. Kelompok hPRF-L akan menerima injeksi hPRF-L mingguan (25, 50, atau 75 μL) ke dalam mukosa vagina selama 4 minggu. Sampel jaringan vagina akan dikumpulkan, dan ekspresi kolagen tipe I, kolagen tipe III, serta MMP-1 akan dievaluasi menggunakan analisis quantitative reverse transcription polymerase chain reaction (qRT-PCR) dan imunohistokimia. Analisis data akan dilakukan menggunakan ANOVA dan uji post-hoc.

Hasilnya, terjadi peningkatan ekspresi kolagen tipe I dan III serta penurunan kadar MMP-1 pada kelompok yang mendapatkan terapi hPRF-L dibandingkan dengan kelompok kontrol dan sham. Temuan ini dapat mendukung penggunaan hPRF-L sebagai terapi regeneratif dalam penatalaksanaan POP, sekaligus menawarkan alternatif potensial terhadap intervensi bedah yang lebih invasif. Kedepannya, hasil penelitian ini diharapkan berkontribusi pada pengembangan terapi POP yang lebih minimal invasif, sehingga dapat meningkatkan luaran klinis pasien dan kualitas hidup mereka.

Penelitian ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terutama Nomor 3: Kehidupan Sehat dan Kesejahteraan, khususnya target 3.7 dan 3.8 yang menekankan pada pentingnya akses universal terhadap layanan kesehatan reproduksi yang berkualitas serta pengembangan inovasi medis yang aman, efektif, dan terjangkau. Selain itu, penelitian ini mendukung SDGs Nomor 5: Kesetaraan Gender dengan fokus pada peningkatan kesehatan reproduksi perempuan serta upaya mengurangi kesenjangan gender dalam riset medis serta Nomor 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penguatan kolaborasi translasi antara penelitian akademik dan penerapan klinis di bidang kedokteran regeneratif (Kontributor: Dr. dr. Akbar Novan Dwi Saputra, Sp.O.G, Ilustrasi: https://kehamilansehat.com).