FK-KMK UGM. Dosen dari Departemen Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) mengungkapkan hasil penelitian terbaru bahwa perkembangan Osteorsarcoma pada tubuh pasien dapat dihambat dengan terapi vitamin D. Osteosarcoma sendiri merupakan salah satu kanker tulang paling agresif yang banyak menyerang anak-anak dan dewasa muda. Temuan ini dipublikasikan oleh Dian Caturini Sulistyoningrum, B.Sc., M.Sc., Ph.D, dr. Yuni Artha Prabowo Putro, Sp.O.T.Subsp.Onk.Ort.R(K), dr. Ery Kus Dwianingsih, Ph.D., Sp.PA(K)., dr. Amri Wicaksono Pribadi, Sp.Rad serta Annisa Fitria Nur Azizah dalam Medical Oncology pada 26 Desember 2025 berjudul ”Understanding the role of vitamin D in osteosarcoma: A narrative review”.
Tinjauan ilmiah menganalisis berbagai studi eksperimental, epidemiologis, klinis terkait vitamin D dan Osteosarcoma, seiring meningkatnya minat global dalam pendekatan nutrisi untuk terapi kanker. vitamin D memiliki efek antiproliferatif, proapoptotik dan mampu menginduksi diferensiasi sel kanker sehingga berpotensi menekan keganasan osteosarkoma serta meningkatkan respons terhadap terapi. Metode penelitian dilakukan dengan analisis komprehensif berbagai studi internasional yang meneliti peran vitamin D pada osteosarkoma.
Osteosarkoma masih menjadi tantangan besar dalam dunia medis karena tingginya tingkat invasi dan kecenderungan metastasis dini ke paru-paru, sementara angka kelangsungan hidup pasien relatif stagnan meskipun telah ada kemajuan dalam pembedahan dan kemoterapi. Kondisi ini mendorong pencarian terapi tambahan yang lebih efektif dan aman. Vitamin D bekerja melalui reseptor vitamin D (VDR) dan berperan dalam remodeling tulang, yang penting untuk mengurangi kerusakan tulang akibat osteosarkoma.
Penemuan lain bahwa kadar vitamin D yang rendah sering dikaitkan dengan prognosis yang lebih buruk pada pasien osteosarkoma. Namun, para peneliti menegaskan bahwa hubungan sebab-akibat masih belum dapat dipastikan. Oleh karena itu, mereka merekomendasikan uji klinis terkontrol berskala besar untuk menilai efektivitas dan keamanan suplementasi vitamin D sebagai terapi pendamping. Faktor genetik juga memengaruhi respons individu terhadap vitamin D, sehingga membuka peluang penerapan kedokteran presisi dalam pengelolaan osteosarkoma di masa depan.
Para penulis menekankan bahwa vitamin D bukan pengganti terapi standar, melainkan berpotensi menjadi terapi tambahan yang dapat meningkatkan hasil pengobatan. Pengembangan analog vitamin D dengan efek antikanker yang lebih kuat dan risiko efek samping yang lebih rendah juga dinilai sebagai arah penelitian yang menjanjikan. Penelitian ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Nomor 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, Nomor 4: Pendidikan Berkualitas dan Nomor 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur.(Kontributor: Dian Caturini Sulistyoningrum, BSc., MSc., PhD)