FK-KMK UGM. Dosen sekaligus peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA., Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., PhD, FRSPH, Ema Madyaningrum, S.Kep., NS., M.Kes., Ph.D. bersama dosen Universitas Pekalongan Dr. Sri Mumpuni Yuniarsih, S.Kep., Ns., M.Kep. dan Dr. Siwi Sri Widhowati, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D. mengungkapkan bahwa pelayanan kesehatan tradisional yang terintegrasi di Puskesmas berpotensi menjadi salah satu model inovasi pelayanan kesehatan primer di Indonesia. Temuan tersebut dipublikasikan pada jurnal internasional BMC Complementary Medicine and Therapies Tahun 2026 dengan judul “Integration of Traditional Medicine Services into Public Health Centers in Indonesia: A Qualitative Study”.
Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi pelayanan kesehatan tradisional tidak hanya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan pemerintah, tetapi juga mendukung pencapaian Universal Health Coverage (UHC) serta berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penelitian dilakukan di Puskesmas Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menggunakan pendekatan kualitatif dengan melibatkan 16 partisipan yang terdiri atas pengelola program, tenaga kesehatan, dan pengguna layanan kesehatan tradisional. Data dikumpulkan melalui Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam untuk menggali pengalaman pengguna layanan serta persepsi tenaga kesehatan mengenai implementasi pelayanan kesehatan tradisional di fasilitas kesehatan primer.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap pelayanan kesehatan tradisional di Puskesmas. Kepercayaan tersebut didukung oleh kompetensi tenaga kesehatan yang telah mengikuti pelatihan, penerapan prosedur pelayanan yang memenuhi standar keselamatan, serta tersedianya fasilitas yang lebih terjamin dibandingkan praktik kesehatan tradisional nonformal. Selain itu, masyarakat memanfaatkan layanan ini tidak hanya karena faktor budaya, tetapi juga karena menginginkan alternatif terapi yang lebih alami, mengurangi ketergantungan terhadap obat-obatan kimia, serta merasakan manfaat terapeutik dari layanan seperti akupresur dan bekam. Biaya pelayanan yang terjangkau dan akses yang mudah juga menjadi faktor yang meningkatkan pemanfaatan layanan tersebut.
Bagi penyelenggara layanan kesehatan, integrasi pelayanan kesehatan tradisional memberikan nilai tambah dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan primer. Kehadiran layanan ini memperluas pilihan terapi bagi pasien, meningkatkan kunjungan masyarakat ke Puskesmas, sekaligus mendukung pelestarian kearifan lokal Indonesia. Keberhasilan implementasinya ditunjang oleh regulasi pemerintah, dukungan pendanaan, pelatihan tenaga kesehatan, serta kolaborasi yang baik dengan praktisi kesehatan tradisional.
Di sisi lain, penelitian juga mengidentifikasi sejumlah tantangan yang masih perlu diatasi. Keterbatasan jumlah tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang pelayanan kesehatan tradisional, belum masuknya layanan tersebut ke dalam cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta masih rendahnya sosialisasi kepada masyarakat menjadi hambatan dalam optimalisasi program. Oleh karena itu, penguatan kapasitas tenaga kesehatan, perluasan akses layanan, serta peningkatan promosi dan edukasi kepada masyarakat menjadi langkah strategis yang diperlukan untuk mendukung keberlanjutan implementasi program.
Lebih lanjut, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pencapaian beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs). Integrasi pelayanan kesehatan tradisional mendukung SDGs Nomor 3: Hidup Sehat dan Sejahtera melalui penyediaan layanan kesehatan primer yang aman, berkualitas, dan mudah diakses masyarakat. Penelitian ini juga berkontribusi pada SDGs Nomor 10: Berkurangnya Kesenjangan dengan memperluas akses pelayanan kesehatan tradisional yang terjangkau melalui fasilitas kesehatan pemerintah. Selain itu, implementasi program ini mendukung SDGs Nomor 11: Kota dan Pemukiman Berkelanjutan melalui pelestarian pengetahuan dan praktik kesehatan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya yang tetap relevan dalam sistem pelayanan kesehatan modern.
Pelayanan kesehatan tradisional telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad melalui berbagai praktik, seperti jamu, akupresur, dan bekam. Integrasi praktik-praktik tersebut ke dalam layanan puskesmas merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif, aman, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Temuan penelitian ini memperkuat bukti bahwa sinergi antara pengobatan modern dan kesehatan tradisional dapat menjadi strategi penting dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat Indonesia. (Kontributor: Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA.)