FK-KMK UGM. Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) yang terdiri dari mahasiswa S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan, Ingolda Nadaa Nabiilah serta dosen FK-KMK UGM dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed., Ph.D. dan Prof. dr. Titi Savitri Prihatiningsih, M.A., M.Med.Ed., Ph.D. melakukan penelitian tentang Early Community Exposure (ECE) atau Pengenalan Komunitas Dini bagi Mahasiswa Kedokteran di Wilayah Perbatasan Kalimantan Utara. Temuan dari penelitian adalah ECE memungkinkan mahasiswa mengontekstualisasikan pengetahuan praklinik dalam lingkungan masyarakat yang nyata sekaligus mendorong pembentukan identitas profesional sejak dini. Hasil penelitian berhasil dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi BMC Medical Education pada tahun 2026 berjudul “Exploring Early Community Exposure Among First-Year Medical Students in a Peripheral Indonesian Medical School: A Qualitative Case Study.”
Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman mahasiswa kedokteran tahun pertama dalam mengikuti program Early Community Exposure (ECE) di Fakultas Kedokteran Universitas Borneo Tarakan pada tahun akademik 2024/2025. Program yang menjadi bagian dari kurikulum hasil kolaborasi UBT dan Universitas Gadjah Mada ini mewajibkan mahasiswa mengikuti kunjungan komunitas selama delapan minggu ke puskesmas dan lingkungan sekitarnya untuk mengenal layanan kesehatan primer di wilayah perbatasan.
Melalui wawancara mendalam terhadap 15 mahasiswa, penelitian menemukan bahwa ECE memberikan pengalaman belajar yang bermakna dengan menjembatani teori dan praktik sejak awal pendidikan kedokteran. Interaksi langsung dengan tenaga kesehatan dan masyarakat membantu mahasiswa meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, empati, serta pemahaman yang lebih kontekstual terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
Selain memperkuat kompetensi akademik, penelitian ini menunjukkan bahwa ECE berperan penting dalam membentuk identitas profesional mahasiswa melalui pembelajaran berbasis pengalaman. Meski demikian, beberapa tantangan masih ditemukan, seperti keterbatasan durasi kegiatan, kendala penjadwalan, dan aksesibilitas bagi sebagian anggota komunitas. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan penguatan refleksi terstruktur, pendampingan, dan kemitraan berkelanjutan dengan fasilitas kesehatan primer serta masyarakat.
Melalui publikasi ini, FK-KMK UGM berharap hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran berbasis komunitas, khususnya di fakultas kedokteran baru di wilayah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan Indonesia. Penelitian ini juga berkontribusi terhadap pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui penguatan pendidikan kedokteran yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan pemerataan layanan kesehatan. (Kontributor: dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed, PhD)