Kepadatan Payudara Tinggi pada Perempuan Muda Berpotensi Mempengaruhi Deteksi Dini dan Subtipe Kanker Payudara

FK-KMK UGM. Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada yang diketuai Prof. Dr. dr. Lina Choridah, Sp.Rad (K) bersama tim yaitu Didik Setyo Heriyanto, Ph.D, Artanto Wahyono, Ph.D, Vincent Laiman, PhD, dr. Sariningsih Hikmawati, dr. Kardinah serta beberapa jejaring kolaborasi nasional mempublikasikan penelitian terbaru mengenai hubungan antara kepadatan payudara (mammographic density) pada perempuan usia muda dengan karakteristik subtipe kanker payudara. Penelitian diterbitkan di International Journal of Breast Cancer Tahun 2026 berjudul “High Mammographic Density in Younger Women and Its Implications for Breast Cancer Subtypes”.

Hasil penelitian memberikan bukti bahwa perempuan berusia di bawah 45 tahun memiliki kecenderungan kepadatan payudara yang lebih tinggi, yang dapat mempengaruhi proses deteksi dini kanker payudara serta berkaitan dengan karakteristik biologis tumor tertentu. Mammographic density merupakan salah satu faktor penting dalam pemeriksaan mammografi. Jaringan payudara yang padat dapat menyamarkan lesi pada mammogram sehingga menurunkan sensitivitas deteksi dini kanker payudara. Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepadatan payudara yang tinggi juga merupakan salah satu faktor risiko independen terjadinya kanker payudara. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, karena perempuan Asia cenderung memiliki jaringan payudara yang lebih padat dibandingkan populasi Barat.

Tim peneliti menganalisis hubungan antara kepadatan payudara berdasarkan hasil mammografi dengan berbagai subtipe molekuler kanker payudara pada pasien di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan payudara tinggi lebih banyak ditemukan pada perempuan usia muda, dan karakteristik tersebut memiliki implikasi penting dalam interpretasi mammografi serta perencanaan strategi skrining yang lebih personal. Temuan ini memperkuat pentingnya mempertimbangkan usia dan kepadatan payudara dalam menentukan pendekatan deteksi dini maupun tindak lanjut klinis pasien.

Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi skrining kanker payudara berbasis risiko (risk-based screening) di Indonesia. Pendekatan tersebut memungkinkan pemilihan metode pencitraan yang lebih sesuai bagi perempuan dengan jaringan payudara padat, misalnya dengan mempertimbangkan penggunaan ultrasonografi atau modalitas pencitraan tambahan pada kelompok berisiko tinggi.

Selain memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu radiologi dan onkologi, penelitian ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini kanker payudara. Edukasi mengenai faktor risiko, termasuk kepadatan payudara, menjadi bagian penting dalam meningkatkan keberhasilan diagnosis pada stadium awal sehingga peluang keberhasilan terapi dapat semakin besar.

Secara langsung, penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam upaya menurunkan angka kematian akibat penyakit tidak menular melalui deteksi dini kanker payudara yang lebih efektif, SDGs 4 Pendidikan Berkualitas dengan berkontribusi terhadap pengembangan ilmu radiologi dan onkologi serta SDGs Nomor 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan yaitu kolaborasi antara peneliti dari Universitas Gadjah Mada dengan berbagai institusi pelayanan kesehatan di Indonesia sebagai bagian dari upaya menghasilkan bukti ilmiah yang mendukung pengembangan pelayanan radiologi presisi dan peningkatan kualitas deteksi dini kanker payudara di Indonesia. Bukti ilmiah yang dihasilkan juga dapat mendukung penyusunan kebijakan skrining yang lebih tepat sasaran sesuai karakteristik populasi perempuan Indonesia, sehingga kualitas pelayanan kesehatan menjadi semakin baik dan merata. (Kontributor: Prof. Dr. dr. Lina Choridah, Sp.Rad (K) dkk.)