FK-KMK UGM. Penelitian terbaru dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) mengungkap bahwa nyamuk Anopheles barbirostris, salah satu vektor utama malaria dan filariasis, memiliki struktur populasi yang jauh lebih kompleks di Indonesia dibandingkan perkiraan sebelumnya. Penelitian dilakukan oleh Prof. dr. Tri Baskoro Tunggul Satoto, M.Sc., Ph.D. dari Departemen Parasitologi FK-KMK UGM sebagai peneliti utama bersama Triwibowo Ambar Garjito, S.Si, M.Kes. Ph.D, Soleman Landi, SKM., M.Sc., Shinta, Roger Frutos dan Sylvie Manguin. Studi dipublikasikan dalam jurnal PLOS One Tahun 2025 berjudul ”Anopheles barbirostris in Indonesia: A more complex metapopulation than expected”.
Eksperimen dilakukan menggunakan penanda molekuler ITS2 dan COI untuk menganalisis keragaman genetik populasi An. barbirostris. Hasil penelitian menunjukkan adanya sembilan populasi berbeda di Indonesia, termasuk laporan pertama keberadaan spesies Anopheles wejchoochotei di Sulawesi Utara serta ditemukannya populasi unik di Magelang, Jawa Tengah. Temuan ini memberikan pemahaman baru mengenai keragaman dan distribusi vektor penyakit di Indonesia.
Keberhasilan penelitian ini merupakan hasil kolaborasi lintas negara dan institusi yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Airlangga, Universitas Mahidol (Thailand), Xiamen University (China), serta University of Montpellier (Prancis). Kerja sama internasional ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas riset nasional melalui transfer pengetahuan, pengembangan teknologi, serta peningkatan publikasi ilmiah bereputasi internasional.
Melalui kontribusi Prof. Tri Baskoro Tunggul Satoto dan jejaring kolaborasi internasional yang kuat, penelitian ini tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mendukung pengendalian vektor penyakit. Keragaman genetik nyamuk yang terungkap dalam penelitian ini memiliki implikasi langsung terhadap efektivitas strategi pengendalian vektor dan program eliminasi malaria. Dengan memahami variasi populasi secara lebih mendalam, intervensi kesehatan masyarakat dapat dirancang dan disesuaikan dengan kondisi lokal sehingga menjadi lebih tepat sasaran dan efektif.
Kolaborasi tersebut sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs Nomor 3: Hidup Sehat dan Sejahtera yang mendukung upaya eliminasi malaria dan filariasis, Nomor 4: Pendidikan Berkualitas, Nomor 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur yang mendorong penguatan infrastruktur riset biomolekuler, serta Nomor 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan yang menegaskan pentingnya kemitraan global dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan tropis. (Kontributor: Prof. dr. Tri Baskoro Tunggul Satoto, M.Sc., Ph.D. dkk.)